...
Senja kembali datang membawa sebuah bayang, yang teramat sulit untuk dilupakan
Aku merindukan mu....
Aku mencoba untuk mengajak mu bertemu, dengan harapan kita kembali menyatu. Kita kembali ke Cafe itu, Cafe yang dulu pernah membuat kita bersatu.
Kita seakan orang bisu, kau terdiam karena malu, sedangkan aku melamun memperhatikan wajah mu. Kau berbeda dengan dulu, dulu kau sangat senang jika di ajak ke tempat ini, sekarang senyum pun tidak kau utarakan seakan pertemuan ini teramat dipaksakan.
Lalu aku mencoba membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan yang di kemas rapih dengan sebuah pengharapan, berharap kau menjawab dengan penuh perasaan.
Ternyata pengharapan itu hanya sebuah harapan kosong belaka, dia tidak menyertakan perasaannya kedalam jawabannya, dia menjawab seperlunya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Tak lama dia mengajak pulang, pulang kerumah bukan kepangkuan, ku antar dia sampai depan gerbang, lalu ku ucapkan selamat malam.
Dia pun masuk tanpa berkata, hanya sebuah senyuman yang ia berikan. sepertinya perasaan ku benar, dia menerima ajakan ku dengan terpaksa, saat pemeran utama sedang tidak ada.
Tapi tak apalah, terimakasih Tuhan, kau mengizinkan ku melihat senyumannya sekali lagi, walaupun dia pergi dan tak akan pernah kembali.
"Aku menuliskan cerita tentang seseorang yang sibuk menuliskan kisah cintanya sendiri." -9996
Aku mencoba untuk mengajak mu bertemu, dengan harapan kita kembali menyatu. Kita kembali ke Cafe itu, Cafe yang dulu pernah membuat kita bersatu.
Kita seakan orang bisu, kau terdiam karena malu, sedangkan aku melamun memperhatikan wajah mu. Kau berbeda dengan dulu, dulu kau sangat senang jika di ajak ke tempat ini, sekarang senyum pun tidak kau utarakan seakan pertemuan ini teramat dipaksakan.
Lalu aku mencoba membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan yang di kemas rapih dengan sebuah pengharapan, berharap kau menjawab dengan penuh perasaan.
Ternyata pengharapan itu hanya sebuah harapan kosong belaka, dia tidak menyertakan perasaannya kedalam jawabannya, dia menjawab seperlunya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Tak lama dia mengajak pulang, pulang kerumah bukan kepangkuan, ku antar dia sampai depan gerbang, lalu ku ucapkan selamat malam.
Dia pun masuk tanpa berkata, hanya sebuah senyuman yang ia berikan. sepertinya perasaan ku benar, dia menerima ajakan ku dengan terpaksa, saat pemeran utama sedang tidak ada.
Tapi tak apalah, terimakasih Tuhan, kau mengizinkan ku melihat senyumannya sekali lagi, walaupun dia pergi dan tak akan pernah kembali.
"Aku menuliskan cerita tentang seseorang yang sibuk menuliskan kisah cintanya sendiri." -9996
Komentar
Posting Komentar